pendidikan jasmani

on Selasa, 27 Maret 2012


PENDAHULUAN
Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu. Sementara itu, pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat.
Tujuan utama diterapkannya program sertifikasi guru, termasuk terhadap guru pendidikan jasmani, adalah meningkatkan kualitas guru sehingga kualitas pendidikan semakin meningkat. Faktor guru diyakini memegang peran yang sangat strategis dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang berkualitas berpengaruh besar terhadap efektivitas pembelajaran (Suherman, 2007; Rink, 2002) dan pada gilirannya mempengaruhi prestasi anak didik (Siedentop & Tannehill, 2000). Keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak hadirnya sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas. Sejumlah negara, misalnya Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat, berusaha mengembangkan kebijakan yang mendorong keberadaan guru yang berkualitas. Salah satu kebijakan yang dikembangkan adalah intervensi langsung menuju peningkatan mutu dan memberikan jaminan dan kesejahteraan hidup guru yang memadai dengan melaksanakan sertifikasi guru.



PEMBAHASAN
Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasmani, yang dalam kurikulum disebut secara paralel dengan istilah lain menjadi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, merupakan salah satu mata pelajaran yang disajikan di sekolah, mulai dari SD sampai dengan SMA. Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (CDC, 2000; Disman, 1990; Pate dan Trost, 1998).
Pengalaman gerak yang didapatkan siswa dalam Pendidikan Jasmani merupakan kontributor penting bagi peningkatan angka partisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga yang sekaligus juga merupakan kontributor penting bagi kesejahteraan dan kesehatan siswa (Siedentop, 1990; Ratliffe, 1994; Thomas and Laraine, 1994; Stran and Ruder 1996; CDC, 2000). Untuk itu tidak mengherankan, peningkatan kualitas dan efektivitas proses belajar mengajar (PBM) Pendidikan Jasmani selalu menjadi fokus perhatian semua pihak yang peduli terhadap pendidikan.
Peran Guru dalam Pembelajaran
Untuk dapat manjalankan proses pembelajaran Pendidikan Jasmani sebagaimana diuraikan di atas secara lebih baik, maka seorang guru harus mampu memerankan fungsi mengajar pada saat menjalankan pembelajarannya. Fungsi mengajar adalah fungsi guru dalam proses belajar mengajar. Penggunaan istilah ini ditujukan agar guru terfokus pada tujuan perilaku yang ditampilkannya pada saat mengajar daripada hanya sekedar terfokus pada perilaku mengajarnya itu sendiri. Siedentop (1991) mengemukakan tiga fungsi utama guru pada saat melakukan pembelajaran sebagai berikut, “three major functions occupy most of the attention of physical educators as they teach: managing students, directing and instructing students, and monitoring/supervising students”
Managing students merujuk para perilaku verbal maupun nonverbal yang ditampilkan guru untuk tujuan mengorganisir, merubah aktivitas belajar, mengarahkan formasi atau peralatan, memelihara rutinitas baik yang bersifat akademis maupun non akademais termasuk pengelolaan waktu transisi. Directing and instructing students meliputi demonstrasi, eksplanasi, feedback kelompok, dan kegiatan penutup. Monitoring merujuk pada perilaku observasi guru terhadap siswa secara pasif, sedangkan supervising merujuk pada perilaku guru yang ditujukan untuk memlihara siswa tetap aktif belajar seperti mengarahkan, mengingatkan, dan memberikan feedback perilaku sosial (behavioral interactions) maupun penampilan belajar siswa (skill interactions).
Sementara itu, Rink (1993) menjelaskan fungsi guru dalam proses belajar mengajar secara lebih rinci lagi ke dalam tujuh kegiatan sebagai berikut, “identifying outcomes, planning, presenting tasks, organizing and managing the learning environment, monitoring the learning environment, developing the content, and evaluating”.
Walaupun kedua pendapat ahli tersebut berbeda secara kuantitas, namun keduanya sama-sama merujuk pada esensi dari proses pembelajaran Pendidikan Jasmani. Pendapat pertama lebih menekankan pada fungsi pokok proses pembelajaran, yaitu pada saat menjalankan siklus Movement Task-Student Response to Task hingga fungsi lainnya seperti persiapan mengajar tidak termasuk di dalamnya. Sedangkan pendapat yang kedua lebih bersifat menyeluruh mulai dari kegiatan persiapan (identifikasi hasil belajar dan perencanaan) hingga evaluasi terhadap proses pembelajaran. Perbedaan ini masuk akal mengingat siklus Movement Task-Student Response to Task merupakan bagian kritis dari proses pembelajaran sehingga fungsi mengajar termasuk keterampilan mengajar (teaching skills) yang pokok seringkali dikaitkan dengan peristiwa siklus ini.
Untuk dapat meraih proses pembelajaran yang lebih efektif, para guru dapat memilih dan menggunakan berbagai teknik dan keterampilan mengajar secara efektif. Keputusan mengenai teknik dan keterampilan mengajar bagaimana yang akan dipilih untuk menampilkan fungsi mengajar bergantung pada apa yang diketahui (what they know), apa yang diyakini (what they believe), minat (interest), keterampilan (skills), dan kepribadian (personality) gurunya itu sendiri. Hal ini sejalan dengan konsep Ring (1993) mengenai fungsi mengajar yaitu agar guru terfokus pada “tujuan” perilaku yang ditampilkannya pada saat mengajar daripada hanya sekedar terpokus pada “perilaku” mengajarnya itu sendiri.
Walaupun para guru memiliki kebebasan untuk memilih dan menggunakan berbagai teknik dan keterampilan mengajar, kriteria dan prinsip efektivitas pembelajaran yang sifatnya umum masih tetap bisa dibuat, misalnya: penyampaian tugas gerak yang baik membuahkan siswa memahami cara melakukannya demikian juga tujuannya. Hal ini perlu diketahui oleh setiap guru sebagai alat untuk mengevaluasi efektivitas proses pembelajaran yang dilakukannya. Demikian juga berbagai teknik dan keterampilan mengajar perlu diketahui dan dimiliki para guru agar dapat diterapkan dan disesuaikan dengan konteks tempat mereka mengajar Pendidikan Jasmani.

Waktu Aktif Belajar Dan Jumlah Siswa Aktif (%) Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Secara umum, dari gambar di atas dapat dikatakan bahwa rerata proporsi waktu aktif belajar gerak dan angka partisipasi siswa di atas 40% merupakan indikator yang termasuk dalam katagori baik. Oleh karena kompetensi pedagogis guru pendidikan jasmani termasuk kategori bagus. Namun demikian apabila dianalisis berdasarkan masa kerja terlihat jelas bahwa semakin lama masa kerja, maka semakin menurun kompetensi pedagogisnya. Kondisi yang demikian sudah merupakan suatu ironi. Lazimnya, masa kerja berbanding lurus dengan kemampuan yang dimiliki. Ada kemungkinan hal ini terjadi karena kurang efektifnya mekanisme evaluasi dan supervisi pelaksanaan pembelajaran. Longgarnya sistem tersebut seolah memberikan peluang bagi guru untuk melakukan tugas tidak sebagaimana yang dituntut.
a.    Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional berkaitan dengan kemampuan guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi ini diukur dengan menggunakan angket yang berisi tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh pada saat pre-service training dan in-service training. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional pada saat pre-service, yakni ketika mereka ada di perguruan tinggi dirasa masih sangat kurang, yakni sebesar 52,78% dan hanya 5,56% yang menyatakan memadai. Kondisi tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Jika pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan sebagai bekal menjalankan profesi guru masih jauh dari apa yang diharapkan, bisa dibayangkan bagaimana mereka dapat menjalankan tugas secara profesional. Sudah barang tentu, hal ini menjadi catatan penting bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang notabene mencetak calon-calon guru. Minimnya pengetahuan yang diperoleh saat pre-service training tampaknya juga berpengaruh pada keyakinan guru dalam menjalankan profesinya. Sebanyak 36,11% menyatakan bahwa mereka merasa tidak layak menjalankan tugas mengajar secara profesional. Mereka yang menyatakan cukup layak sebesar 55,56%, dan hanya 2,78% yang menyatakan sangat layak. Ketika mereka ditanya bekal apa saja yang dirasa kurang? Sebesar 22,73% menyatakan kekurangan dalam bidang keilmuan; 27,27% merasa kurang dalam hal teaching skill; dan 25% menyatakan kekurangan dalam hal substansi cabang olahraga. Bekal kompetensi yang dirasa kurang saat di Perguruan Tinggi Logikanya, ketika bekal matakuliah dari perguruan tinggi dirasa masih sangat kurang, mestinya para guru diberi kesempatan seluas-luasnya untuk akses terhadap upaya peningkatan kompetensi profesionalnya. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Justru dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa 83,33% mereka menyatakan sangat kurang mendapatkan akses. Sebanyak 13,89% menyatakan cukup dan 0% menyatakan memadai. Ironi memang! Tetapi itulah realitas yang terjadi.
b.    Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merujuk pada kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun secara umum cukup memadai, tetapi yang menyedihkan adalah masa kerja berbanding terbalik dengan kompetensi kepribadian. Semakin lama masa kerja, semakin menurun kompetensi kepribadiannya. Penurunan terjadi di semua aspek, mulai dari kejujuran, kedisiplinan, keterbukaan, etos kerja, dan inovasi. Tampaknya, hasil ini linier dengan kompetensi pedagogis sebagaimana dikemukakan di atas. Hal ini semakin meneguhkan bahwa mereka, dalam hal ini guru pendidikan jasmani, kurang mendapatkan pembinaan yang memadai. Perlu diberi catatan di sini bahwa guru pendidikan jasmani merupakan komunitas dengan ciri khusus. Komunitas tersebut memiliki solidaritas yang tinggi, ikatan moral yang longgar, dan pragmatis. Solidaritas tanpa diikuti bimbingan moral memiliki kecenderungan untuk melahirkan tindakan-tindakan yang dari perspektif kepribadian kurang terpuji. Misalnya karena alasan pertemanan rela melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kejujuran, kedisiplinan, dan keterbukaan. Demikian juga dengan semangat pragmatisme yang mengedepankan prinsip ”pokoknya jalan” pada gilirannya cenderung melahirkan tindakan-tindakan yang kontraproduktif terhadap etos kerja dan inovasi.
c.    Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar Bagaimana dengan kompetensi sosial? Sebagaimana yang terjadi pada kompetensi kepribadian terjadi pula pada kompetensi sosial. Penjelasan yang diberikan pada kompetensi kepribadian dapat juga diterapkan pada konteks kompetensi kepribadian.
Gambaran Penggunaan Waktu oleh Guru Pendidikan Jasmani
Persoalan lain terkait dengan kondisi kualitas guru pendidikan jasmani adalah bagaimana mereka menggunakan waktu. Penggunaan waktu merupakan cerminan bagaimana seseorang mengisi hidupnya dengan aktivitas-aktivitas yang berdampak bagi dirinya.
Menurut Jansen (1995), secara garis besar penggunaan waktu dibagi ke dalam tiga kategori besar, yakni waktu untuk kebutuhan dasar (existence time), waktu produktif (subsistence time), dan waktu rekreatif (free time) yang masing-masing secara berturut-turut alokasinya adalah 10 jam, 9 jam, dan 5 jam. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan waktu guru pendidikan jasmani relatif optimal, apalagi terkait dengan penggunaan waktu produktif. Bagaimana halnya dengan penggunaan waktu yang terkait dengan peningkatan profesionalisme? Dari data lapangan ditemukan bahwa angkanya sebesar 0,7 jam atau 42 menit per hari pada kelompok subjek masa kerja lima tahun ke bawah. Sementara itu pada kelompok subjek masa kerja sepuluh tahun ke atas sebesar 0,4 jam atau 24 menit per hari.
Dari data tersebut dapat dibayangkan bagaimana peningkatan pengetahuan yang diperoleh. Yang jelas, tidak banyak yang bisa dilakukan. Apalagi jika dalam waktu tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal. Kondisi yang demikian tentu sangat memprihatinkan, mengingat banyaknya waktu yang digunakan oleh seseorang untuk mengerjakan sesuatu merupakan indikator penting bagaimana orang yang bersangkutan berkomitmen kepada profesinya.
KESIMPULAN
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kualitas guru pendidikan jasmani masih sangat memprihatinkan, terutama pada kompetensi profesional, kepribadian, dan sosial. Secara lebih khusus dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.    Kompetensi pedagogik guru pendidikan jasmani relatif optimal dilihat dari waktu aktif belajar gerak dan angka partisipasi siswa dalam pembelajaran.
2.    Kompetensi profesional pada saat pre-service maupun in-service dirasa masih sangat kurang.
3.    Kompetensi kepribadian guru relatif tinggi. Kompetensi kepribadian guru dipengaruhi oleh masa kerja, semakin lama masa kerja semakin menurun kompetensi kepribadiannya.
4.    Kompetensi sosial guru relatif tinggi. Kompetensi sosial guru dipengaruhi oleh masa kerja, semakin lama masa kerja semakin menurun kompetensi sosialnya.
Gambaran penggunaan waktu dalam sehari, sebanyak 8,5 jam untuk kebutuhan dasar; 12,05 jam untuk kegiatan produktif; dan 3,45 jam untuk kegiatan rekreatif. Dan Pemanfaatan waktu untuk pengembangan profesionalisme guru pendidikan jasmani masih relatif rendah, yakni antara 24-42 menit per hari. Guru dengan masa kerja rendah cenderung memanfaatkan waktu untuk pemenuhan kebutuhan dasar, sementara itu guru dengan masa kerja lama cenderung memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang bersifat produktif.




pendidikan jasmani
Tag :

pembelajaran bolabasket_NEW.3gp

Tag :

JENIS TEMBAKAN DALAM PERMAINAN BOLABASKET

on Kamis, 08 Maret 2012


 
Menurut Imam Sodikun (1992: 59) jenis-jenis tembakan dalam bolabasket adalah
1.    Tembakan dengan dua tangan dari depan dada (two handed set shoot)
Tembakan dua tangan dari depan dada merupakan teknik tembakan yang harus diketahui dan dikuasai oleh pemain bolabasket. jika bola selalu berada di depan dada bola akan selalu terlindung dan kekuatan tangan untuk mendorong lebih besar.
2.    Tembakan dengan dua tangan dari atas kepala (two handed over head set shoot)
Tembakan ini juga biasanya digunakan oleh para pemain bolabasket terutama putri, karena tembakan ini memerlukan dorongan kuat untuk menembak dengan dua tangan di atas kepala.
3.    Tembakan dengan satu tangan (one handed set shoot)
Tembakan satu tangan di atas kepala dilakukan dengan menggunakan satu tangan untuk menembak bola, sebab tembakan jenis ini digunakan oleh pemain basket berpostur tinggi.
4.    Tembakan lay up (lay up shoot)
Tembakan lay up adalah jenis tembakan yang efektif karena dilakukan dari jarak yang sedekat-dekatnya dengan ring.
5.    Tembakan didahului dengan menggiring bola langsung lay up
Cara ini dilakukan dengan menggiring bola sendiri menuju ring, setelah dekat dengan ring kemudian melakukan lay up yang bergantung pada perkiraan dan keterampilan masing-masing. Bedanya hanyalah pada saat menerima bola yaitu dari teman atau diri sendiri pada saat menggiring bola.
6.    Tembakan loncat dengan satu tangan (one handed jump shoot)
Tembakan loncatan atau jump shoot dengan satu tangan terdiri dari unsur loncatan, shooting, dan ketepatan waktu pada saat melepaskan bola. Kombinasi dari ketiga unsur inilah yang menetukan keberhasilan tembakan.
7.    Tembakan loncat dengan dua tangan di atas ke pala (two handed over head jump shoot)
Tembakan loncatan dengan dua tangan merupakan salah satu teknik jump shoot yang mudah dilakukan dan mudah diajarkan kepada pemain terutama pemain putri hal ini disebabkan jump shoot dua tangan tidak memerlukan kekuatan yang besar.
8.    Tembakan kaitan (hook shoot)
Hook shoot merupakan tembakan yang sangat penting dalam penyerangan jarak dekat di daerah lawan yang mempunyai pertahanan yang ketat, dengan hook shoot pemain tidak perlu mengambil sikap awal menghadap keranjang, tetapi dengan sikap miring atau menyamping jaring, bola dilepaskan dengan ayunan tangan secara menangkup keranjang.
Menurut Jon Oliver (2007: 32) penerapan dasar-dasar menembak yang benar secara konsisten adalah kunci untuk mendapatkan keberhasilan melakukan tembakan selama bermain dalam situasi-situasi pertandingan.
Menurut Hall Wissel (1996: 46) pada dasarnya semua tembakan dalam permainan bolabasket memiliki mekanika sebagai berikut:
1.       Pandangan
Pada saat akan melakukan tembakan, pusatkan pandangan mata pada ring, gunakan tembakan samping jika penembak pada sisi 45 derajat dari papan ring. Jagalah pandangan tetap fokus pada ring sampai bola mencapai sasaran.
2.       Keseimbangan
Berada dalam keseimbangan memberikan kontrol irama tembakan, posisi kaki adalah dasar keseimbangan dan menjaga kepala segaris dengan kaki, tekuk lutut memberikan tenaga pada saat menembak dan membantu melompat.
3.       Posisi tangan.
Untuk menembak posisi tangan perlu diperhatikan. Tempatkan tangan tembak di belakang bola, jari-jari tangan membuka, sedangkan yang tidak menembak ditempatkan dibawah bola sebagai penjaga keseimbangan saat menembak.
4.       Persejajaran siku
Pegang bola di depan dan di atas bahu untuk menembak antara telinga dan bahu. Pertahankan siku tetap di dalam, saat itu posisi bola sejajar dengan ring basket.
5.       Irama menembak
Tembakan bola dengan halus, kekuatan inti dan ritme tembakan berasal dari gerakan naik turun kaki yang diawali dengan lutut sedikit lentur dan tekuk lutut arahkan lengan, pergelangan tangan dan jari-jari tangan pada ring dengan sudut kemiringan antara 45˚-60˚.

6.       Follow through
Setelah melepas bola, pertahankan bola tetap di atas dan tetap terentang dengan jari tengah menunjuk lurus pada target, telapak tangan menghadap ke bawah dan telapak tangan keseimbangan menghadap ke atas.


sumber:  Imam Sodikun. (1992).Olahraga Pilihan. Bolabasket.Jakarta. Depdikbud.
Tag :

OLAHRAGA YANG BERHUBUNGAN DENGAN MEKANIKA

on Jumat, 16 Desember 2011

PENDAHULUAN 
konsep kecepatan menolak pelatihan strategi. Beberapa profesional menolak mempertimbangkan kecepatan pelatihan sebagai yang paling efisien sprint pelatihan teknik di planet, sementara lainnya menganggap itu sebagai tidak efektif karena adanya titik biomechanical berdiri. Menentang berbagai strategi termasuk kecepatan, tarikan, menanjak sprints, pasir sprints, dan bobot sprints. Bahkan, menentang tarikan dapat melibatkan seorang atlet tarikan yang bobot kereta luncur, ban, kecepatan parasut, atau beberapa perangkat lain yang lebih mengatur jarak menolak tarikan akan meningkatkan kekuatan otot output, terutama di pangkal paha, lutut, dan pergelangan kaki. Menurut penelitian meningkatkan tingkat kekuatan memungkinkan produksi yang lebih besar memaksa penurunan tanah dan waktu kontak, yang mengarah ke kemungkinan peningkatan frekuensi mudah. Meningkat mudah panjang mungkin dicapai oleh meningkatkan pemanfaatan energi elastis selama mendukung tahap dari siklus sprint (Spinks dkk. 2007).
Tag :

BELAJAR PSIKOLOGI BUKAN HANYA UNTUK ANDA

Persepsi [perception] merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Banyak ahli yang mencoba membuat definisi dari ‘persepsi’. Beberapa di antaranya adalah:Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito). Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff). Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower). Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson). Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson). Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadaplingkungan oleh seorang individu (Krech).     Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi [sensation]. Yang terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.
Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual, yaitu mata) sebuah benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai “warna merah”. Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Benda berwarna merah akan memberikan sensasi warna merah, tapi orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna merah itu, misalnya. Contoh klasik dari fungsi persepsi ini tampak pada gambar berikut ini. Coba perhatikan baik-baik, gambar siapa yang Anda lihat?
hat Penjelasan
Contoh klasik ini menggambarkan the power of perception. Gambar ini adalah sebuah stimulus sederhana yang hanya menyangkut satu sensasi yaitu visual, dan cukup untuk menghasilkan persepsi yang berbeda. Bayangkan dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak pengalaman perseptual yang sangat mungkin menimbulkan persepsi yang berbeda.
Lihat selanjutnya [sebaiknya dilihat berurutan]:
•    Prinsip utama dalam persepsi, yaitu figure and ground;
•    Prinsip pengorganisasian, yaitu proximity, similarity, dan continuity;
•    Faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi


Tag :

Memahami Minat Dan Bakat Anak

SERING kita mendapati disekitar tempat tinggal kita, seorang anak yang tidak punya waktu bergaul bersama anak sebayanya. Entah disebabkan ‘larangan’ dari orang tuanya agar tidak ‘keluyuran’ atau memang kesibukan si anak tersebut lantaran harus menggugurkan kewajibannya mengikuti berbagai macam kegiatan tambahan, mulai dari les matematika, bahasa inggris, les musik, les olah vokal, sampai pada les terkait fisik, sepak bola atau beladiri, misalnya.
Pagi hari mengikuti pendidikan di sekolah formal hingga tengah hari. Sepulang dari sekolah, istirahat siang lalu aktivitas rutin dimulai kembali, yakni menyambangi guru privat berbagai keterampilan, yang telah terjadual selama satu pekan. Hal ini berlangsung setiap hari tanpa ada jeda hari untuk mengistirahatkan fisik dan psikis. Sehingga setelah berjalan sekian bulan, anak mulai ‘menikmati’ masanya seperti tahap masa dewasa yang selalu ditutut beraktivitas padat dan lebih dari kemampuannya. Kondisi lingkungan privat atau kursus mengharuskan anak agar mengerjakan PR alias pekerjaan rumah. Sampai dirumah sore hari menjelang petang, anak dituntut untuk bersih-bersih badan, lepas itu anak mengerjakan PR-nya, baik PR dari sekolah maupun privat. Sehabis mengerjakan pekerjaan rumah, anak sudah lelah hingga tertidur lelap. Saya tekankan kembali, si anak tertidur lelap, bukannya tidur. Dimana dhong, kesempatan anak bersosialisasi dengan peer group-nya, bermasyarakat, mengembangkan fithrah kemanusiaannya terkait makhluk sosial, kapan anak melihat dunia nyata yang penuh dengan permainan pada masanya, main kelereng, petak umpet, kejar-kejaran, bahkan bermain peran bersama teman sebayanya, kapan dhong? Terkungkunglah jiwa si anak gara-gara kesibukannya yang luar biasa setiap harinya. Maaf contoh kasus di atas merupakan kasus ekstrim untuk sekedar menyadarkan kita, manusia dewasa yang disebut sebagai orang tua ‘bijaksana’. Wahai orang tua, termasuk saya. Saya yakin bahwa sampeyan sewaktu masa anak, remaja, atau pemuda dulu pernah mempunyai cita-cita yang boleh jadi belum tercapai atau nyaris terlaksana. Terpikir oleh kita, cita-cita tersebut akan diwariskan kepada sang anak, atau bahasa gampangnya anak dipaksakan untuk melanjutkan cita-cita Anda yang belum tercapai. Walhasil, setelah dievaluasi, ketidakberhasilan Anda dulu lantaran kurangnya daya dukung berupa guru privat, anda berpikir agar anak sukses harus ikut kursus atau privat. Nah, disini Anda cerdas bisa mengevaluasi penyebab ketidaksuksesan Anda. Tapi ingat, ketidaksuksesan Anda zaman dulu jangan sampai membebani anak, karena seorang anak juga manusia. Artinya, dia punya kemampuan dan juga keterbatasan, punya cita-cita dan keinginan sendiri yang sesuai minat bakatnya, punya lingkungan sosial yang mengharuskan berperilaku wajar bagi anak seusianya. Kalau mau fair, anda harus gali kemampuan anak, tidak usahlah muluk-muluk. Silakan gali melalui kecenderungan si anak, minat dan bakatnya  yang menonjol. Perlu diingat, bukan paksaan. Manusia yang dilahirkan di muka bumi ini pasti membawa potensi fitrahnya masing-masing, artinya kita sebagai orang tua tinggal memotivasi, mengembangkan, dan mengarahkan anak agar sampai pada terminal yang sesuai dengan kecenderungannya tadi. Kesulitan orang tua dalam menggali bakat si anak, akan membuat anak maupun orang tua menjadi ‘sembarangan’  dalam meniti karir kehidupannya. Yakni tabrak sana-tabrak sini, ikut les sana-ikut les sini, ikut bimbel sana-bimbel sini, nimbrung kursus sana-kursus sini yang ‘jluntrungannya’ belum jelas.
Tag :

Menelusuri minat anak

Ada orang tua yang tidak mengetahui sama sekali apa sebenarnya minat anaknya. Ada yang baru tahu ketika anak sudah dewasa, atau bahkan baru mengetahuinya setelah anak mengalami kegagalan dalam studi atau kegagalan saat menekuni suatu profesi. Sebenarnya merupakan suatu kerugian yang besar bila hal tersebut terjadi. Karena dengan mengetahui minat anak, orang tua akan mudah mengarahkan, membimbing dan mengantarkan anak pada cita-citanya kelak di kemudian hari.
Pada semua usia, minat memainkan peran yang penting dalam kehidupan seseorang dan mempunyai dampak besar pada perilaku dan sikap. Minat terutama berkembang pesat saat anak-anak. Pada masa itu, minat menjadi sumber motivasi yang kuat untuk belajar. Anak yang berminat pada suatu hal atau kegiatan, maka ia akan berusaha lebih keras untuk belajar hal tersebut di banding anak yang kurang berminat.
Anak tidak dilahirkan lengkap dengan minat. Minat merupakan hasil pengalaman belajar. Seorang anak yang merasakan kepuasan dan keuntungan pada suatu kegiatan. Maka minat mereka tersebut akan cenderung menetap dan menguat. Berkembangnya minat sangat dipengaruhi oleh emosi. Artinya, bila anak senang akan suatu hal maka minatnya pada hal ini akan semakin besar.
Beberapa anak ada yang mengembangkan minat tertentu karena sekedar ituk-ikutan teman, padahal itu tidak sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Anak sering melakukan hal ini karena biasanya mereka ingin diterima pada kelompok tertentu. Kadang anak ikut kegiatan tertentu karena itu yang lagi trend. Misalnya kegiatan les biola yang sekarang lagi trend untuk les musik.
Ada kalanya anak mengisi waktu luangnya dengan menonton televise, mendengar radio, bukan karena mereka benar-benar berminat pada kegiatan itu, tetapi karena tidak ada yang bisa mereka lakukan selain itu. Oleh Karen aitu, kita sebagai orang tua harus pandai-pandai memilihkan dan mengembangkan minat yang positif bagi anak.
Ada metode yang lebih akurat untuk mengetahui minat anak, yaitu melalui tes psikologi yang telah terstandar. Namun kita sebagai orang tua bias melakukan penelusuran minat anak secara mandiri dengan metode-metode dibawah ini:
Pengataman Kegiatan
Banyak kegiatan yang dilakukan anak di luar tugas utamanya di sekolah. Kegiatan itu mungkin dilakukan pada waktu senggangnya, waktu bermain, maupun kegiatan-kegiatan yang khusus atau les. Dengan mengamati mainan anak dan benda-benda yang mereka beli, kumpulkan atau gunakan dalam aktivitas spontan kita bias tahu minatnya. Ada pengalaman nyata, ada seorang anak yang dari kecil sangat suka mengoleksi batu-batuan berbagai jenis dan bentuk. Ternyata sewaktu masuk perguruan tinggi ia memilih fakultas Teknik Jurusan Geologi, dan lulus dengan predikat memuaskan.

Pertanyaan
Biasanya anak yang berumur 4 atau 5 tahun lebih sering bertanya dari rentang umur yang lain. Bila anak terus-menerus bertanya mengenai sesuatu, minatnya pada hal tersebut lebih besar daripada minatnya pada hal yang lain.
Pokok Pembicaraan
sering anak berbicara dengan orang tua, dengan orang dewasa lain atau dengan teman sebayanya. Apa yang dia bicarakan memberikan petunjuk mengenai minat mereka dan seberapa kuat minat tersebut.
Kegiatan
Jika ditanya apa keinginan bila mendapat sesuatu, anak akan jujur menjawabnya. Bias jadi ia memilih sendiri apa hadiah ulang tahunnya, kegiatan apa yang akan dilakukan saat liburan, atau pulang dari sekolah.
Laporan
Dari orang-orang yang membimbing anak kita bias mendapatkan laporan apa saja yang menjadi minat anak. Biasanya lebih sering dari gurunya. Misalnya, anak sangat tekun bila mengikuti kelas aljabar, atau senang sekali mengikuti kelas lukis.
Membaca
Khusus untuk anak sudah bias membaca, kita akan tabu jenis bacaan apa yang disukainya. Mungkin juga buku-buku dengan tema-tema apa saja yang menarik perhatiannya, biasanya hal-hal tersebut yang menjadi minatnya.
Tag :

Latihan Relaksasi

  1. Ambil posisi yang paling nyaman , bisa : duduk bersandar atau terlentang. Tutuplah mata Anda, Ciptakan rasa relaks pada semua otot-otot Anda, Kosongkan pikiran Anda, Aturlah pernafasan dengan cara bernafas dengan hidung dan mengeluarkannya dengan mulut, lakukan secara berulang-ulang, Luruskan kedua-dua belah kaki. Rapatkan tangan di sisi badan. Tutup mata dan kosongkan fikiran selama kira-kira 2 menit. 
  2. Kerutkan dahi dengan mengangkat kedua-dua kening ke atas. Rasakan ketegangan pada otot dahi. Lakukan dalam arah bertentangan dengan mengerutkan dahi dan kening mengarah ke bawah.
  3. Tutup mata. Rasakan ketegangan sekitar otot mata. Buka mata dan rasakan kelegaannya.
  4. Tekan rahang dengan kemas dan ketap gigi serapatnya. Rasakan ketegangannya. Perlahan-lahan buka ketapan gigi dan rahang.
  5. Ketap bibir dengan rapat. Perlahan-lahan lepaskan dan rasakan ketegangannya.
  6. Dongakkan kepala ke atas sehingga rasa ketegangan pada otot leher. Tegakkan kembali kepala dan rasakan kelegaan pada otot leher.
  7. Dongakkan kepada ke bawah dan rasakan ketegangan pada otot belakang leher. Perlahan-lahan otot belakang leher.
  8. Lentukkan kepala perlahan-lahan ke kanan. Tahan sebentar dan rasakan ketegangan pada otot leher. Tegakkan kembali kepala dan anda dapat  rasakan kelegaan pada otot leher tadi.
Tag :

Olahraga Sebagai Fenomena Sosial

Dalam kaitannya dengan olahraga sebagai fenomena sosial dalam sosiologi olahraga ini sangat dikaitkan dengan perkembangan sosial budaya manusia yang sehat jasmani dan rohani, hal ini merupakan pembentukan perkembangan hubungan interaksi dengan masyarakat sekitar. Fenomena sosial ini jika dipahami dan dimengerti bagi masyarakat luas maka akan memiliki peranan yang sangat penting yaitu memberikan kepada semua lapisan masyarakat untuk terlibat langsungdalam berbagai pengalaman belajar melalui interaksi dengan sesama masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain baik itu dari lapisan masyarakat yang pendidikannya rendah sampai masyarakat yang berpendidikan lebih tinggi.
Dewasa ini perkembangan sosial budaya dalam olahraga banyak fenomena sosial yang berpengaruh terhadap dinamika interaksi sosial-budaya masyarakat. Hal itu sejalan dengan perkembangannya olahraga akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kebudayaan. Banyak pendapat para tokoh pendidikan yang kemudian berdampak terhadap peradaban manusia. Terkait tentang arti pentingnya pendidikan bagi manusia yang mempunyai kesehatan secara lahiriah maupun rohaniah. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan Sosiologi olahraga jika dipahami dan dimengerti bagi masyarakat luas maka akan memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan bersosial antar masyarakat yang satu dengan masyarkat yang lain. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.
Olahraga sebenarnya merupakan suatu bagian dari ilmu-ilmu sosial. Hal ini ditunjukkan, didalam pendidikan olahraga dan ilmu pengetahuan olahraga adalah pendekatan bio-medical, dan sebagai kegiatan organis tubuh manusia saja (STO, 1976), yaitu menurut pendekatan yang selama ini mendominasi pengetahuan olahraga, maka prestasi-prestasi para atlet itu ditentukan oleh kondisi fisik yang sempurna semata-mata (Lueshen, 1998). Kalau dijabarkan, maka menurut pendekatan ini, faktor-faktor yang menentukan suatu prestasi dari suatu kegiatan olahraga dari para atlet itu adalah dimulai dari faktor-faktor kondisi organis dari tubuh yang dianggap paling menentukan ke kepribadian dan sosial, dan lalu faktor-faktor kebudayaan.
Didalam kenyataan, justru yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu suatu prestasi olahraga yang hebat tidaklah semata-mata ditentukan oleh suatu prestasi olahraga yang hebat tidaklah semata-mata ditentukan oleh suatu kondisi fisik yang sempurna tetapi bahkan sebaliknya ditentukan oleh suatu jumlah kontrol yang merupakan sebagian dari struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, kalau dijabarkan maka urutan-urutan dari suatu prestasi olahraga terjadi dari kebudayaan yang merupakan faktor yang paling menentukan ke faktor faktor sosial, lalu ke kepribadian dan yang terakhir adalah faktor-faktor organik dari tubuh atlet yang bersangkutan. Dalam tulisan ini, yang akan diuraikan olahraga sebagaimana dilihat dari pandangan ilmu-ilmu sosial, dan khususnya hubungan antara olahraga dengan masyarakat dan kebudayaan. Dan pentingnya studi-studi tentang olahraga bagi perkembangan teori-teori ilmu-ilmu sosial dan bagi kepentingan-kepentingan praktis.
Berbicara tentang sosiologi olahraga kaitanya dengan olahraga sebagai fenomena sosial, maka yang akan dibahas dalam makalah ini adalah hubungannya dengan perkembangan interaksi masyarakat atau anak didik dalam mengembangkan sosialisasi perkembangan olahraga. Perkembangan pendidikan manusia akan berpengaruh terhadap dinamika sosial-budaya masyarakatnya. Sejalan dengan itu, pendidikan akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kebudayaan. Banyak pendapat para tokoh pendidikan yang kemudian berdampak terhadap peradaban manusia. Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Allah Yang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.  Sejalan dengan pendidikan yang penulis uraikan diatas maka dalam sejarah dan perkembangan pendidikan olahraga di Indonesia penulis dapat menarik suatu garis yang kian lama kian menanjak. Masyarakat Indonesia yang dinamis akan mengakui bahwa persekutuan hidup itu hidup dan tidak hanya mengalami pengaruh pikiran dan kemampuan manusia individu saja bahkan juga mengalami pengaruh zaman dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern seperti sekarang ini. Olahraga memberi kesempatan yang sangat baik untuk menyalurkan tenaga dengan jalan yang baik di dalam lingkungan persaudaraan dan persahabatan untuk persatuan yang sehat dan suasana yang akrab dan gembira. Tetapi kini kita menghadapi kubu-kubu yang kuat baik yang merupakan alam pikiran, sikap hidup, tradisi dan kebiasaan yang semuanya adalah peninggalan penjajahan ditambah dengan feodalisme semenjak 350 tahun yang lalu. Dan kadang-kadang kubu-kubu itu tidak dapat kita lihat tetapi dapat kita rasakan karena sembunyi di dalam diri manusia. Karena itu kita harus menyelami alam pikiran pandangan dan sikap seseorang untuk dapat membantu dia membuang sisa-sisa penjajahan yang masih bersarang dalam dirinya untuk secara sadar membantu gerakan olahraga.
Dalam hal ini prestasilah yang memegang peranan dan merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Prestasi yang kita miliki selain mengangkat nama dan mengharumkan derajat bangsa Indonesia di dunia, suatu prestasi yang tinggi oleh seorang olahragawan Indonesia dapat membangkitkan dalam diri warga Negara, rasa bangsa yang sebesar-besrnya, semangat kebangsaan yang menyala-nyala dan jiwa persatuan yang sehebat-hebatnya sehingga terbangkit kekuatan-kekuatan baru pada dirinya dan mempunyai hasrat yang benar untuk ikut di dalam gerakan keolahragaan. Dalam dunia keloahragaan banyak kaitannya dengan bagaimana cara beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan, Maka ilmu pendidikan sosiologi harus di fahami dan diterapkan oleh masyarakat terutama para olahragawan. 
Sumber:
http://gatoetn-artikel.blogspot.com/2010/03/olahraga-sebagai-fenomena-sosial.html
Tag :

sejarah cristiano ronaldo

on Jumat, 09 Desember 2011

Informasi Pribadi
Nama lengkap    : Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro
Tanggal lahir     : 5 Februari 1985 (umur 26)
Tempat lahir     : Funchal, Madeira, Portugal
Tinggi         : 1.86 m (6 ft 1 in)[1]
Posisi bermain     : Sayap kanan, Penyerang
Informasi klub
Klub saat ini     : Real Madrid Nomor 7
Karier junior     : 1993—1995 Andorinha 1995—1997 Nacional 1997—2001 Sporting Lisboa
Karier senior     : Tahun Tim Tampil (Gol) 2001—2003 Sporting Lisboa 25 (3) 2003—2009 Manchester United 196 (84) 2009—kini Real Madrid 64 (69)
Tim nasional     : 2001—2002 Portugal U-17 9 (6) 2003 Portugal U-20 5 (1) 2002—2003 Portugal U-21 6 (3) 2004 Portugal U-23 3 (1) 2003—kini Portugal 83 (29)
SEJARAH CRISTIANO RONALDO
Cristiano Ronaldo, OIH (lahir di Funchal, Madeira, Portugal, 5 Februari 1985; umur 26 tahun) merupakan seorang pemain sepak bola Portugal. Ia dapat berposisi sebagai bermain sebagai sayap kiri atau kanan serta penyerang tengah. Saat ini ia bermain untuk tim Spanyol, Real Madrid dan untuk tim nasional Portugal. Sebelum bermain untuk Real Madrid, ia pernah bermain di Sporting Lisboa dan Manchester United.
Ronaldo lahir di Madeira, Portugal, anak dari Maria Dolores dos Santos Aveiro dan José Dinis Aveiro. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Hugo, dan dua kakak perempuan, Elma dan Liliana Cátia. Liliana Bekerja sebagai penyanyi dengan nama panggung "Ronalda" di Portugal. Nama kedua yang diberikan kepada Cristiano ("Ronaldo") relatif langka di Portugal.
Ronaldo adalah pemain sepak bola yang dapat bermain dengan kedua kakinya, yang membuat dia dapat bermain di mana saja: kanan, kiri atau melalui tengah. Ini mengakibatkan Ronaldo dan rekannya sesama pemain sepak bola di Manchester United Ryan Giggs dapat saling bertukar posisi.
Ronaldo memiliki kemampuan teknik yang hebat. Selain gerakan multi step-over, dia juga mengembangkan banyak kemampuan lainnya, membuat dia sangat lincah dan sebagai pemain sayap yang tidak dapat diprediksikan gerakannya. Disamping kemampuan mengolah bolanya yang luar biasa, dia juga piawai dalam mengeksekusi bola-bola mati, itulah yang membuatnya menjadi salah satu pemain yang paling berbahaya bagi lawannya, dia dapat mencetak gol dengan cara apapun.

KARIER
1.    Junior
Cristiano bergabung dengan Andorinha (1993—1995), Nacional (1995—1997), dan Sporting Lisboa (1997—2001) pada masa junior.
2.    Klub
Cristiano pernah bermain untuk Sporting Lisboa pada 2001—2003. Ia bermain 25 kali dan mencetak 3 gol. Ia kemudian pindah ke Manchester United hingga tahun 2009. Ia bermain 196 kali dan mencetak 84 gol.
Pada 1 Juli 2009, ia pindah ke Real Madrid, klubnya saat ini, dengan memecahkan rekor transfer sebesar 80 juta poundsterling, yang menjadikannya sebagai pemain termahal dalam sejarah sepak bola. Ia telah bermain 64 kali dan mencetak 19 gol untuk Real Madrid. Pada musim La Liga 2010/2011, Ronaldo mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak di La Liga dalam 1 musim, sejumlah 40 gol.
3.    Internasional
Cristiano telah bermain untuk berbagai tingkatan usia tim nasional Portugal, yaitu U-17, U-20, U-21, dan U-23. Ia mulai dipanggil ke tim nasional Portugal sejak tahun 2003. Ia telah bermain setidaknya 83 kali untuk tim nasional senior, dan mencetak 29 gol.
Ia termasuk dalam skuat Portugal pada Piala Eropa 2004, Olimpiade Athena 2004, Piala Dunia 2006, Piala Eropa 2008, dan Piala Dunia 2010.
GELAR
Klub
1.    Manchester United
•    Liga Utama Inggris: 3
2006–07, 2007–08, 2008–09
•    Piala FA: 1
2003–04
•    Piala Liga: 2
2005–06, 2008–09
•    Community Shield: 1
2007
•    Liga Champions UEFA: 1
2007–08
•    Piala Dunia Antarklub FIFA: 1
2008

2.    Real Madrid
•    Copa del Rey: 1
2010–11

3.    Individual
•    Tim Pilihan Euro UEFA: 1
2004
•    Penghargaan Bravo: 1
2004
•    Pemain Muda Spesial Terbaik: 2
2004, 2005
•    Pemain Sepak Bola Portugal Terbaik: 1
2006–07
•    Tim Terbaik UEFA: 5
2003–04, 2006–07, 2007–08, 2008–09, 2009–10
•    Pemain Terbaik Sir Matt Busby: 3
2003–04, 2006–07, 2007–08
•    FIFPro World XI: 4
2006–07, 2007–08, 2008–09, 2009–10
•    Pemain Muda Terbaik PFA: 1
2006–07
•    Pemain Terbaik PFA Pilihan Pemain PFA: 2
2006–07, 2007–08
•    Pemain Terbaik PFA Pilihan Penggemar: 2
2006–07, 2007–08
•    Tim Liga Utama Inggris Terbaik PFA: 4
2005–06, 2006–07, 2007–08, 2008–09
•    Pemain Sepak Bola versi FWA: 2
2006–07, 2007–08
•    Pemain Pilihan Barclays: 2
2006–07, 2007–08
•    Pemain Bulanan Liga Utama Inggris: 4
November 2006, Desember 2006, Januari 2008, Maret 2008
•    Sepatu Emas Liga Utama Inggris: 1
2007–08
•    Penghargaan Jasa Barclays: 1
2007–08
•    Pencetak Gol Terbanyak Liga Champions UEFA: 1
2007–08
•    Sepatu Emas Eropa: 2
2007–08, 2010–11
•    Penyerang Terbaik Liga Champions UEFA: 1
2007–08
•    Pemain Klub Terbaik UEFA: 1
2007–08
•    Pemain Terbaik Dunia FIFPro: 1
2007–08
•    Bola Perak Piala Dunia Antarklub FIFA: 1
2008
•    Ballon d'Or: 1
2008
•    Pemain Terbaik Dunia FIFA: 1
2008
•    Onze d'Or: 1
2008
•    Pemain Terbaik Dunia World Soccer: 1
2008
•    Penghargaan Puskás FIFA: 1
2009
•    Pencetak Gol Terbanyak Copa del Rey: 1
2010–11
•    Pencetak Gol Terbanyak La Liga (El pichichi : 1
2010–11


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Cristiano_Ronaldo
Tag :
 
© Berbagi Ilmu Olahraga | All Rights Reserved
Designed ByImuzcorner | Powered ByBlogger | RealMadrid CF Blogger Template ByFree Blogger Template