Home > All posts
ACARA PENGAJIAN RUTIN MALAM JUM'AT PESERTA PPG SM3T UNJ 2015 DI RUSUNANAWA 2 UNJ
Posted by Sdn 1 tumbang langkai on Senin, 11 Mei 2015 at 17.41
Jenis Tembakan
Posted by Sdn 1 tumbang langkai on Kamis, 19 Maret 2015 at 02.24
Menurut
Imam Sodikun (1992: 59) jenis-jenis tembakan dalam bolabasket adalah
1. Tembakan dengan dua tangan dari depan dada (two handed set
shoot)
Tembakan
dua tangan dari depan dada merupakan teknik
tembakan yang harus diketahui dan dikuasai oleh pemain bolabasket. jika bola
selalu berada di depan
dada bola akan selalu terlindung dan kekuatan tangan untuk mendorong lebih
besar.
2. Tembakan
dengan dua tangan dari atas
kepala (two handed over
head set shoot)
Tembakan
ini juga biasanya digunakan oleh para pemain bolabasket terutama putri, karena
tembakan ini memerlukan dorongan kuat untuk menembak dengan dua tangan di atas
kepala.
3. Tembakan dengan satu tangan (one handed set
shoot)
Tembakan
satu tangan di atas kepala dilakukan dengan menggunakan satu tangan untuk
menembak bola, sebab tembakan jenis ini digunakan oleh pemain basket berpostur tinggi.
4. Tembakan
lay up (lay up shoot)
Tembakan
lay up adalah jenis tembakan yang efektif karena dilakukan dari jarak
yang sedekat-dekatnya dengan ring.
5. Tembakan
didahului dengan menggiring bola langsung lay up
Cara
ini dilakukan dengan menggiring bola sendiri menuju ring, setelah dekat dengan
ring kemudian melakukan lay up yang bergantung pada perkiraan dan keterampilan masing-masing.
Bedanya hanyalah pada saat menerima bola yaitu dari teman atau diri sendiri
pada saat menggiring bola.
6. Tembakan
loncat dengan satu tangan (one handed jump shoot)
Tembakan
loncatan atau jump shoot dengan satu tangan terdiri dari unsur loncatan,
shooting, dan ketepatan waktu pada saat melepaskan bola. Kombinasi dari
ketiga unsur inilah yang menetukan keberhasilan tembakan.
7. Tembakan
loncat dengan dua tangan di atas ke pala (two handed over head jump shoot)
Tembakan
loncatan dengan dua tangan merupakan salah satu teknik jump shoot yang
mudah dilakukan dan mudah diajarkan kepada pemain terutama pemain putri hal ini
disebabkan jump shoot dua tangan tidak memerlukan kekuatan yang besar.
8. Tembakan
kaitan (hook shoot)
Hook
shoot merupakan tembakan yang sangat penting
dalam penyerangan jarak dekat di daerah lawan yang mempunyai pertahanan yang
ketat, dengan hook shoot pemain tidak perlu mengambil sikap awal
menghadap keranjang, tetapi dengan sikap miring atau menyamping jaring, bola
dilepaskan dengan ayunan tangan secara menangkup keranjang.
sumber: Imam
Sodikun. (1992).Olahraga Pilihan. Bolabasket.Jakarta.
Depdikbud.
Siswa SDN 1 Karanganyar, Purwanegara, Banjarnegara
Posted by Sdn 1 tumbang langkai on Senin, 12 November 2012 at 21.40
Jabal Musa: 2750 Trap Curam Menuju Tangis
Posted by Sdn 1 tumbang langkai on Selasa, 18 September 2012 at 23.37
Kalau tidak karena ada Nabi Musa di puncak sana, tak maulah
capek-capek naik ke Gunung Katerina alias Jabal Musa. Dari pos
berhentinya bis menuju awal pendakian gunung yang pertama saja mending
jalan kaki Jombang-Surabaya. Setelah itu harus mendaki jalan naik
rata-rata 30 derajat, berkelok-kelok, melintir-melintir seperti
menelusuri badan ular raksasa yang amat sangat panjang — ular raksasa
yang meliliti dua gunung.
Jalanan sangat kering, debu dan batu-batu. Mungkin ada satu dua helai
rumput berwarna coklat kering, tapi jangan bayangkan ada warna hijau,
jangan berharap ada satu tanaman atau apalagi pepohonan yang rimbun
sebagaimana gunung-gunung di tanah air.
Udara sangat dingin, angin berhembus menusuk-nusuk tulang. Semakin ke
atas semakin deras angin menyerbu. Semakin ke atas semakin mendekati
titik beku — sekitar 2 atau 3 derajat Celcius. Siapakah rombongan gila
yang mendaki gunung Musa di musim dingin ini? Apakah mereka
pendaki-pendaki gunung yang berpengalaman? Kenapa tidak menunggu musim
panas, agar badan tidak membeku? Apakah mereka berpakaian rangkap 18?
Apakah mereka menyangka angin Firaun tidak mampu menembus 18 lapisan
kain tebal? Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka kepanasan di
Cengkareng?
Di ujung ekor sang ular di leher gunung yang kedua, tiba-tiba,
sesudah ada lorong panjang yang membelah batu-batu raksasa — terdapat
jalanan yang menurun. Semua warga Kiai Kanjeng bersorak-sorak! Sesudah
pendakian sangat panjang yang sangat melelahkan dan mencopot dengkul — kini jalanan sudah menurun, berarti inilah puncaknya!
Mereka menghentikan langkah, duduk di batu-batu sekenanya, atau
menyandarkan punggung, Yudi bahkan langsung melingkar, tidur, dan
mengorok. Di beberapa bagian jalanan, ketika rombongan beristirahat —
Yudi punya keahlian sendiri: ada beberapa menit istirahat ia gunakan
untuk mengorok. Luar biasa bahagia hidupnya.
Tapi ternyata rombongan itu GR. Di ujung jalanan yang sedikit menurun itu tampak samar-samar ada jalanan batu-batu sangat curam yang menaik sampai ke langit…
Rombongan masih harus mendaki gunung ketiga, gunung yang sebenarnya.
Kaki mereka yang rasanya bukan hanya sangat pegal-pegal tapi juga
rasanya sudah tidak ada kaki — masih harus mendaki trap-trap batu curam
60 derajat ke atas sebanyak 2750 trap Mampus mampuslah mampus. Almampusu malmampusu wama adroka malmampus…ini benar-benar kal-ihnil manfuuuusss….
Kalau sesudah mendaki dua gunung lantas di 2750 trap ini Anda sanggup
menapak naik langsung sampai 20 langkah tanpa berhenti, berarti Anda
belum punya penyakit dalam dan kaki Anda masih bisa dipakai untuk
pertandingan sepakbola. Kalau Anda keberatan perut, jantung tidak fresh,
atau ada suatu penyakit dalam tubuh — berhentilah sebelum naik trap,
cari onta dan suruh dia mengantarkan Anda turun ke bumi.
Kalau 10 langkah berhenti 10 langkah berhenti masih bisa, cobalah
mendaki sampai tuntas. Saya dirahmati Allah karena berjalan bersama
Ustadz Jamal dari Departemen Kebudayaan Mesir, yang badannya besar dan
agak gemuk sehingga sangat kecapekan dan sangat lamban mendaki. Bersama
kami juga ada Ustadz Muhammad Nur Shamad, Atdikbud KBRI yang juga
selemah saya. Tidak tega saya meninggalkannya. Nanti pasti saya akan
kalah duluan sampainya ke puncak — dan saya punya alasan: “Aduh saya
tidak tega sama Ustadz Jamal….”. Padahal saya bersyukur mendaki
bersamanya, karena kalau beberapa langkah beliau berhenti, saya juga
bersyukur punya alasan yang indah untuk berhenti. Seakan-akan saya
toleran kepadanya, padahal saya memang benar-benar capek.
Mbak Via bahkan termasuk juara pertama bersama Bobiet, Cak Fuad dan
Irfan. Para juara ini menempuk perjalanan sekitar 4,5 jam, sempat shalat
subuh di puncak, sementara lainnya ada yang 5 jam ada yang 5,5 jam.
Ananto, Bayu dan Jijit tidak ikut mendaki karena dalam keadaan sakit.
Nia, Yuli dan Roh, juga mengambil keputusan yang arif: tidur di
penginapan, sebab kalau sampai putri-putri ini ikut naik, lantas
resikonya harus digotong pulang dari atas gunung — siapa yang akan kuat
menuruni gunung seram dan medan sangat berat itu dengan menggendong
orang lain?
Yang mengagumkan adalah bahwa SP Joko dan Islamiyanto sanggup
menuntaskan perjuangan sampai puncak. Seabagaimana Yudi, Islami juga
banyak menyempatkan diri untuk tidur di pos-pos peristirahatan. Sp Joko
ternyata diberi tenaga oleh Allah melalui calon anaknya: “Hari ini
adalah HPL kelahiran anak saya, sehingga saya berniat tirakat sampai
tuntas demi anak saya….”
Rahmat sempat naik onta di gunung pertama dan kedua. Semula ia memang
berniat tidak berangkat, tapi setengah saya paksa untuk pergi dari
penginapan. Di leher gunung kedua ia juga sudah memutuskan untuk tidak
meneruskan, tapi saya paksa dan saya pelototi. Akhirnya ia sukses sampai
ke puncak, dan bahkan turunnya berlari menuruni tiga gunung.
Nevi merasa jari-jarinya lenyap karena berani-beraninya tidak pakai
sarung tangan. Joko Kamto berwirid sepanjang pendakian “YaaHu YaaHu
Yaahu…” dan tercapai. Giyanto dan Ardani terbiasa hidup keras di
desanya. Yoyok dan semua teman lainnya tidak pernah kehabisan alasan
untuk ndagel dan mengejek diri mereka sendiri sehingga lulus dengan penuh kegembiraan.
Pakde suntuk khusyu menghayati sesuatu di dalam dirinya dan hanya ia
yang tahu kenapa untuk menaklukkan sesuatu itu ia mendaki tiga gunung
tanpa memakai sepatu atau sendal melainkan hanya pakai kaos kaki. Dan,
tentu saja, Pakde, gelandang kesebelasan MAS ini lulus dengan mulus.
Bobiet menjadi salah satu juara karena sejak di Jogja dia sudah
mematerikan niat bulat istiqamah total bahwa ke manapun KiaiKanjeng
pergi ia mewajibkan dirinya untuk berdiri di depan dan tidak akan
membiarkan dirinya berputus apa oleh apapun juga.
Cak Fuad punya metode sendiri. Ia sangat stabil berjalan naik dan
berjalan turun. Konstan, tidak ada keluhan, tidak tersendat-sendat.
Rupanya diam-diam ia mempraktekkan bahwa ketika naik 2750 trap curam itu
kalau berjalan miring ternyata lebih ringan dan tidak sangat kelelahan.
Di puncak Jabal Musa Cak Fuad mewawancarai penjual wedangan….Bagaimana
orang ini kok jualan teh kopi di puncak gunung? Kita membawa badan
kosongan saja mau mati rasanya, lha dia membawa semua peralatan
warungnya ke sini bagaimana caranya?
“Bapak ini bukan hanya seorang penjual minuman. Dia mengerti sejarah,
hapal ayat-ayat dan memiliki logika berpikir yang tidak kalah dibanding
profesor-profesor ilmu Agama di Indonesia. Dua minggu dia jualan di
atas, dua minggu ia bersama keluarganya di bawah sana….”
Yang Cak Fuad tidak mengerti adalah Mbak Via itu mendaki demikian
beratnya, bawa kamera, dan sepanjang pendakian terus omong
bercerita-cerita dan melucu. Padahal omong satu kalimat saja irama napas
akan terganggu karena sepanjang 5 jam itu kami semua dalam keadaan
tersengal-sengal.
Dan ketika kami maiyahan di Musholla, setapak di atas tempat Nabi
Musa AS bertapa melakukan uzlah 40 hari — Mbak Via untuk pertama kalinya
berbicara agak panjang. Sambil menangis mengguguk-guguk, dan memang
semua yang berbicara pagi itu di puncak Jabal Musa, tak seorangpun yang
tak menangis. Mbak Via menyatakan rasa syukur kepada Allah bahwa delapan
tahun terakhir dalam hidupnya ini Allah menganugerahkan pengalaman,
nilai-nilai, kebahagiaan dan segala sesuatu yang luar biasa nikmatnya —
yang tak mungkin ia dapatkan jika ia menjadi artis di Jakarta.
Memang demikian pulalah yang diperoleh oleh Kiai
Kanjeng….pengalaman-pengalaman sosial, spiritual, kultural, yang luar
biasa, yang sangat luas skalanya, yang sangat multi-dimensional. Tidak
sebagaimana layaknya grup musik. Jangankan ketika di Indonesia: maiyahan
dan main musik di pinggir hutan bersama blandong-blandong, di Dolly
tempat pelacuran terbesar se Asia Tenggara, di hotel-hotel mewah, di
gedung-gedung tinggi, di kalangan jetset, di desa-desa terpencil, di
kampung-kampung kumuh di mana tempat sampah disulat menjadi panggung, di
tambah ikan, di perahu antar pulau, di pesawat, di gunung-gunung,
bersama pejabat dan tukang becak, bersama pengusaha dan preman-preman….
Bahkan selama di Mesir KiaiKanjeng berjumpa dengan penonton umum di
Cairo, pelajar-pelajar dari TK sampai universitas di Ismailia, para VIP
di Alexandria, mengiringi penyanyi-penyanyi di AlFayoum, outdoor bersama
Ibu-Ibu di Tanta, segala macam segmen masyarakat. KK maiyahan di perahu
sungai Nil, di sisi piramid-piramid dan spinx, di Istana Faruq, di
pasar, di jalanan-jalanan, jangankan lagi di Masjid maqam Imam Syafii,
Imam Badawi, Imam Busyiri, Imam Husein….
Di puncak Musa itu rasanya seperti Mi’raj. Kalau mendaki Semeru atau
Merapi, ada siapa di atas sana? Di sinilah Musa mengambil jarak dari
kaumnya yang bikin pusing, yang ia titipkan padsa Harun, tapi kemudian
dikhianati oleh Samiri. Di sisi tembok batu itulah Musa bersemedi. Allah
membentaknya dengan meledakkan gunung sampai beliau pingsan — tampak
benar bekas ledakan itu: gunung-gunung anakan, yang bentuk dan tekture
bebatuannya seperti cair, karena dulunya adalah lava-lava atau seperti
bulatan-bulatan lendir raksasa….
Kemudian Musa turun dari puncak ini, kemudian berjalan sekitar 1300 km mencari Khidlir….
Ketika sekitar pukul 9 pagi, usai maiyahan, kami turun — ya Rabb,
tampak betapa jauhnya kami di atas. Memandang ke bawah, gigir-gigir
batu, trap-trap jauh jauh jauh ke bawah, dan ini baru satu gunung. Tentu
saja kami melangkah turun dengan penuh kegembiraan, tapi siapapun yang
punya kecerdasan segera tahu bahwa perjalanan turun ini juga bukan
perjuangan yang ringan.
Turun dari trap ke trap, kemudian masih melingkar-lingkar meliuk-liuk
di dua gunung berikutnya. Dan ketika sudah menyelesaikan tiga gunung,
ternyata ularnya masih sangat panjang dan tampak dari kejauhan. Ya
Allah, kaki kami harus melangkah sekian ribu kali lagi menuju ke planet
Mars nun jauh di sana itu….
Dan ketika kami menoleh ke atas, kami hampir pingsan: Bagaimana
mungkin kita tadi sampai di atas sana? Memandang ketinggian gunung
pertama saja sudah awang-awangen, padahal Jabal Musa yang bertrap-trap
itu tak kelihatan dari kerendahan dibalik gunung yang pertama. Ya Allah,
kalau kami mendaki di siang hari, dan sambil berjalan tampak betapa
tinggi dan jauh yang harus kami tempuh….demi Allah kami akan dipenuhi
oleh rasa putus asa. Ya Allah, jika tadi malam mata kami bisa melihat ke
atas sana, tak mungkin kami sanggup menempuhnya…kami hanya akan titip
salam untuk Nabi Musa.
Ya Allah kami bisa sampai di puncak Gunung Kalimullah-Mu hanya
dengan dua dorongan. Pertama, kerinduan untuk duduk di tempat uzlahnya
Musa AS. Kedua, ketidak-tahuan bahwa ternyata tempatnya begitu jauh dan
medannya begitu berat.
Ya Allah kami bisa bertahan untuk meneruskan mendaki, pertama karena
semangat spiritual. Kedua, karena alhamdulillah ada warung-warung
minuman di sejumlah pos, ada rokok dan banyak teman. Itupun jalanan yang
kami tempuh sudah ditata rapi. Sedangkan Musa-Mu naik mencari jalan
sendiri, tanpa warung, tanpa rokok, hanya berbekal iman dan kerinduan
kepadaMu….
sumber : http://www.kiaikanjeng.com/blog/jabal-musa-2750-trap-curam-menuju-tangis/
sumber : http://www.kiaikanjeng.com/blog/jabal-musa-2750-trap-curam-menuju-tangis/
Membangkitkan Kebangkitan: Paradigma Baru kemandiria
Posted by Sdn 1 tumbang langkai at 23.35
Ribut benar acara-acara Kebangkitan Nasional, dan saya cari-cari di
mana diriku di tengah keramaian itu. Berhubung tidak menemukan diriku,
maka saya mengandaikan diriku ini cukup penting di tengah orang banyak
sehingga ada yang bertanya apa aspirasi saya tentang Kebangkitan
Nasional.
Nekad sayapun menulis tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari
diriku, yakni nilai-nilai yang melandasi sikap untuk bangkit sebagai
bangsa, dengan judul ‘sombong’ sebagaimana yang Anda baca. Pastilah,
nilai yang diyakini dan dilaksanakan seseorang akan propagate ke
mentalitas dan kualitas decision making yang seseorang itu. Nilai yang
diyakini dan dilaksanakan sebuah generasi akan membawa perubahan pada
generasi tersebut dan berpengaruh pada generasi setelahnya.
Coba saya tuliskan sejumlah konten sikap dasar itu, memulai dari diriku sendiri, misalnya:
Mendapatkan kesenangan tanpa ada yang disusahkan. Sebuah sikap dasar yang menumbuhkan empati, membunuh budaya egoisme, menang sendiri dan tak mau peduli. Kabarnya, itu yang disebut saleh dalam Agama: kebaikan dan kebenaran yang ketika diterapkan di dalam dialektika tatanan sosial — tak ada yang tersakiti.
Mendapatkan kesenangan tanpa ada yang disusahkan. Sebuah sikap dasar yang menumbuhkan empati, membunuh budaya egoisme, menang sendiri dan tak mau peduli. Kabarnya, itu yang disebut saleh dalam Agama: kebaikan dan kebenaran yang ketika diterapkan di dalam dialektika tatanan sosial — tak ada yang tersakiti.
Mendapatkan keuntungan tanpa ada yang dirugikan. Sikap dimana
kesempatan eksploitasi tak diberi ruang sedikitpun. Jika sebuah
transaksi (dalam arti luas) terjadi tanpa ada pihak yang merasa
dirugikan, outputnya adalah keikhlasan dan rasa bersyukur. Tanpa
eksploitasi keadilan akan relatif lebih terjamin, dan kreativitas akan
lebih terpacu (karena tak ada jalan pintas untuk mengambil keuntungan).
Tidak berprasangka tapi tetap waspada. Memberi kesempatan setiap
orang untuk berbicara selengkap-lengkapnya dan memberikan haknya untuk
dinilai secara obyektif. Seringkali kita seseorang harus menjadi tokoh
dulu untuk didengarkan apa yang dia katakan. Padahal alangkah lebih
baiknya kalau kita mendengarkan perkataan siapapun terlebih dahulu, baru
memutuskan apakah dia seorang tokoh atau bukan.
Berfikir kekinian tanpa melupakan masa lalu dan merugikan masa depan.
Pembalakan hutan, pembangunan real estate di area serapan air yang
menimbulkan banjir kedepannya, sistem pendidikan baru, dst, membutuhkan
parameter jelas untuk disikapi : apakah ditolak atau didukung. Mau
belajar dari masa lalu, merevisi tindakan yang dilakukan sekarang untuk
menuju masa depan yang lebih baik untuk semua. Budaya menganalisa sangat
dibutuhkan untuk secara tepat menentukan langkah kedepan.
Berfikir global sebagai jenius-lokal. Kesadaran akan posisi kita pada
pemetaan dunia tanpa meninggalkan ‘local-wisdom’ yang sudah terbangun
dari peradaban ribuan tahun, akan memberi filter terhadap budaya yang
masuk, memberi perspektif lebih luas kepada cara pandang kita sembari
mengokohkan jati diri sebagai sebuah bangsa yang beradab.
Kedaerahan yang Indonesiawi. Kemampuan menggali budaya lokal, mampu
mengukur kemampuan potensi lokal, dalam skala frame pemikiran untuk
akselerasi kemajuan Nasional.
Time is money. Bukan dari budaya kita kata-kata itu lahir. Jika money
adalah ukuran keberhasilan, maka kita harus mendefinisikan kembali
konsep itu yang sesuai dengan akar budaya kita. Katakanlah money sama
dengan laba (profit dan benefit).
Laba ekonomi tidak menghilangkan laba kemanusiaan, laba sosial dan
laba budaya. Kemapanan ekonomi yang kehilangan kemanusiaannya akan
menimbulkan iri dan dengki. Keuntungan ekonomi yang melupakan nilai
sosialnya akan menimbulkan kesenjangan dan keresahan. Keuntungan ekonomi
yang meninggalkan budaya akan mereduksi manusianya menjadi manusia yang
tak lagi mengenal kemesraan, kebersamaan dan etika. Manusia yang hanya
terdefinisi dari jumlah uang yang ia miliki.
Waktu adalah laba, jika waktu tak pernah terbuang sia-sia.
Meredefinisi arti kerja keras dan memberi ruang yang lebih luas pada
proses-proses positif, kreatif, yang kadangkala tidak berhubungan
langsung dengan proses ekonomi.
Keringat adalah laba, jika tak satu tetes keringatpun tersepelekan.
Ketika setetes keringatpun dihargai, semua manusia berhak memiliki harga
dirinya dari usahanya, bukan status sosialnya atau jumlah penghargaan
yang mungkin pernah didapatnya.
Sikap adalah laba, jika berlaku kesadaran bahwa tidak ada hal terlalu
remeh untuk dilakukan, sekecil apapun itu. Membangkitkan budaya saling
menghargai. Tak ada hal yang dianggap sepele, dan tak ada yang punya hak
untuk menyepelekan apapun dan siapapun.
Keadilan adalah laba. Pentingnya fairplay untuk menjamin kesetaraan
kesempatan. Sudahkah kita mendomestikasi Demokrasi? Ataukah Demokrasi
masih ‘binatang’ liar di negeri kita? Atau mungkin demokrasi perlu
diberi “bumbu” untuk menjadi “barang dalam negri”.
Kebebasan berbicara dengan dilandasi kesantunan berbangsa. Dasar
kesopan-santunan akan relatif memberi filter agar sebuah pesan yang akan
disampaikan tidak menimbulkan ketegangan secara bahasa sebelum dicerna
substansinya.
Kebebasan berpendapat dengan dilandasi kemaslahatan bersama.
Seringkali kebebasan berpendapat digunakan untuk mengakomodasi
perseteruan personal. Kita dipaksa menjadi penonton ‘pertarungan
politik’ yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemaslahatan
bersama. Nilai ini akan memberi pagar pada hal-hal seperti itu.
Kebebasan berekspresi yang mengekspresikan Indonesia. Paling tidak kita
harus menjadi tuan di rumah sendiri.
Banyak nilai yang bisa kita anut. Banyak deklarasi yang bisa kita
teriakkan. Tapi pertanyaan fundamentalnya adalah seberapa teguh
konsistensi kita untuk bisa terus bertahan pada sebentuk nilai, minimal
sampai titik waktu tertentu yang akan membawa perubahan yang mendasar.
Sambil memastikan bahwa nilai-nilai ini tertular pada generasi penerus
kita.
Saya tidak berpendapat bahwa itu semua ada manfaatnya bagi siapapun,
tapi minimal saya bisa menghibur hati kecil saya sendiri bahwa “Tuan”
nya ini mau belajar menjadi manusia dan mencoba “menjadi sebuah
generasi”.
sumber :
http://www.kiaikanjeng.com/blog/membangkitkan-kebangkitan-paradigma-baru-kemandirian/
Dari Sunan Kalijogo ke Kedaulatan Pangan
Posted by Sdn 1 tumbang langkai at 23.33
Kamis, 1 Juli kemarin, Cak Nun diminta berceramah pada acara Temu
Tani & Nelayan Nasional yang diselenggarakan oleh Majelis
Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyyah bertempat di P4TK Matematika
Yogyakarta. Topik yang diberikan kepada Cak Nun adalah “Budaya Agraris
di Indonesia: Dulu, Kini, dan Esok.
Di hadapan sekitar 120 peserta yang terdiri atas unsur-unsur
Muhammadiyyah dan perwakilan petani dan nelayan, Cak Nun mengatakan,
“Sudah pasti saya tidak paham masalah pertanian. Tetapi yang saya akan
kemukakan nanti justru terkait dengan strategi Muhammadiyyah.”
Menariknya, sebelum sampai ke poinnya, Cak Nun juga bercerita tentang
sejarah agraris di Indonesia dikaitkan dengan kiprah Sunan Kalijogo.
Sesuatu yang jarang diperhatikan orang. Pada mulanya kerajaan Majapahit
yang dalam versi yang diperkenalkan Cak Nun ada kemungkinan berpusat di
Sidoarjo. Waktu itu, di wilayah Sidoarjo, terjadi deformasi tanah akibat
pergerakan lempeng bumi dari wilayah pegunungan Kendeng Pati dan
seterusya hingga ke Sidoarjo, sehingga tanah di Sidoarjo mengandung
lumpur. Ini berdampak pada menurunnya kualitas dan kuantitas pertanian
di Majapahit. Majapahit pun kemudian mengalami kemunduran.
Peralihan dari kemunduran Majapahit menuju tahap sejarah selanjutnya
dikawal oleh Sunan Kalijogo. Menurut Cak Nun, Sunan Kalijogo adalah
seorang pendekar dan strateg sehingga ia bisa meyakinkan para petinggi
Majapahit bahkan mereka bisa masuk Islam, bahkan juga Brawijaya V ikut
masuk Islam. Kependekaran dan kestrategan inilah yang membuat Sunan
Kalijogo mampu mengintegrasikan budaya agraris Majapahit dengan budaya
pesisir Pantai Utara.
Peralihan ini terbagi ke tiga arah. Pertama ke Demak. Kedua, ke
daerah Cetho dekat Gunung Lawu, dan ketiga, ke Selatan (Sabdopalon
Nyogenggong). Peralihan ini bisa dikatakan sebagai eksperimentasi dari
budaya agraris ke budaya pesisir, meskipun ini hanya berhasil selama
beberapa tahun saja. Terutama wilayah Mataram yang tetap saja agraris,
karena pantai Selatan bukanlah wilayah persentuhan dengan dunia global,
sebagaimana Pantura.
Sejarah itu berlanjut hingga datangnya kolonial Belanda dengan
VOC-nya, disambung politik etis kultur stelsel Van Deventer yang membuka
politik tertutup agraris dengan dunia budaya global, sampai dipertegas
kembali oleh kebijakan politik Pak Harto pada 1968 melalui kebijakan
politik terbuka (dengan perjanjian 30 tahun pasar bebas). Hingga saat
ini tiba pada masa—istilah Cak Nun—ultraliberalisme. Cak Nun memberi
contoh bahwa banyak sawah-sawah yang tidak lagi dimiliki para petani
atau orang setempat. Tambak-tambak juga banyak yang dimiliki oleh orang
luar daerah. Juga mall-mall. Maka Cak Nun berpesan bila memang
Muhammaddyyah hendak nyunggi wakule petani dan nelayan janganlah
gembelengan.
“Kita dikepung oleh ultraliberalisme. Pertanyaannya sekarang adalah
apakah kita punya kedaulatan. Ada dua pilihan bagi Muhammadiyyah.
Pertama, dengan kekuatan dan kohesi jaringannya yang berskala nasional,
apakah Muhammadiyyah akan memilih kedaulatan itu, sekurang-kurangnya
kedaulatan bisa dilakukan di kalangan Muhammadiyyah sendiri, tanpa
“mengganggu” negara. Umpamanya, para petani Muhammadiyyah menjual hasil
pertaniannya (padi, beras, dll) ke kelas menengahnya Muhammadiyyah, dan
seterusnya. Kedua, karena titik-titik menyangkut pertanian terletak pada
kebijakan pemerintah, maka Muhammadiyyah harus berpikir dan bekerja
keras untuk melahirkan pemimpin nasional yang punya konsern dan
perjuangan pada soal pertanian ini. Jika memilih pilihan ini, maka sejak
sekarang Muhammadiyyah harus mencanangkannya sejak sekarang. Dengan
kata lain, ambil kedaulatan pangan itu,” papar Cak Nun.
Lebih jauh Cak Nun menegaskan, “Jadi, Muhammadiyyah akan membikin
konsep integrated farming saja, semacam kegiatan LSM, ataukah akan
menegakkan kedaulatan pangan nasional dengan menyiapkan kepemimpinan
nasional yang perlu disiapkan sejak sekarang, yang manakah yang akan
dipilih? Diskusi ini sendiri akan berorientasi ke mana? Berorientasi
pada yang pertama saja juga sangat oke dan saya bisa memafhumi, tetapi
jika memilih yang kedua sangat bagus, dan inilah sebenarnya yang perlu
digagas dalam Muktamar seabad Muhammadiyyah kali ini.”
Rangkaian acara temu tani dan nelayan nasional ini sendiri juga dalam
rangka menyambut dan menyemarakkan Muktamar seabad Muhammadiyyah yang
digelar di Yogyakarta 3-8 Juli 2010. Dalam rangkaian Muktamar itu
sendiri, Cak Nun dan KiaiKanjeng juga diminta terlibat dalam sejumlah
perhelatan Mukatamar, di antaranya persembahan musik KiaiKanjeng,
mengiringi tari kolosal flashlamp Collosal dance Didik Nini Thowok,
berkolaborasi dengan Orkestra Dwiki Darmawan, pada acara tanggal 3 malam
di stadion Mandala Krida, serta nanti akan dua kali bermaiyahan dengan
muktamirin.
sumber :
http://www.kiaikanjeng.com/liputan/dari-sunan-kalijogo-ke-kedaulatan-pangan/



